SUMSEL, BERITA MURATARA — Petani kelapa sawit di sejumlah wilayah Sumatera Selatan mengeluhkan anjloknya harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi ini membuat para petani semakin tertekan lantaran biaya pupuk dan perawatan kebun terus mengalami kenaikan.
Di tingkat petani, harga TBS sawit disebut turun hingga berada di kisaran Rp2.700 sampai Rp2.800 per kilogram. Padahal sebelumnya harga sawit sempat menyentuh angka di atas Rp3.000 per kilogram. Penurunan tersebut membuat penghasilan petani ikut merosot drastis.
“Sekarang hasil panen habis untuk ongkos panen, pupuk, dan biaya angkut. Keuntungan makin tipis,” ungkap salah seorang petani sawit.
Selain harga jual yang menurun, para petani juga mengeluhkan mahalnya harga pupuk non subsidi yang dinilai semakin membebani biaya produksi kebun sawit mereka. Kondisi tersebut membuat sebagian petani terpaksa mengurangi pemupukan karena keterbatasan biaya.
Sementara itu, berdasarkan penetapan harga resmi Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan periode II Mei 2026, harga TBS sawit untuk usia tanaman produktif sebenarnya masih berada di kisaran Rp3.800 per kilogram. Namun harga di lapangan berbeda akibat potongan kualitas buah, biaya transportasi, hingga rantai penjualan melalui tengkulak.
Penurunan harga sawit ini diduga dipengaruhi melemahnya harga crude palm oil (CPO) dunia serta menurunnya permintaan pasar ekspor global. Dampaknya, harga pembelian TBS di tingkat pabrik maupun pengepul ikut mengalami penyesuaian.
Para petani berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga sawit serta menekan harga pupuk agar kondisi ekonomi petani tidak semakin terpuruk.(Zm)
Pewarta: Zm
Editor : Ario



